TOUR LEADER UMRAH PT. ARMINAREKA PERDANA

Mendampingi Jamaah Dari Keberangkatan Umrah hingga Kepulangan dan bertanggung jawab terhadap Jadwal Pelaksanaan dan Kelancaran Ibadah Umrah

Perawat Critical Care RSUD DR Soetomo Surabaya dan Distributor Buku Ventilator

Keseharian saya adalah bekerja sebagai PNS Perawat yang ditempatkan di Ruang Observasi Intensif dan PJ Penanggulangan Infeksi

CEO ENTERPRENURSE ORGANISER

Event Organizer Pelatihan Pemberdayaan Diri, Psychotherapist, Healing dan Team Building Outbond Specialist

OWNER RAJA FINGGERPRINT ANALYSIS SURABAYA

MELIHAT POTENSI LEBIH PASTI MELALUI RAHASIA SIDIK JARI. KARENA SIDIK JARI MEMILIKI STRUKTUR YG MENJADI IDENTITAS MULTI INFORMASI TERMASUK RUMUS PERSONALITY DAN POTENSI YANG TERSIMPAN DIDALAMNYA.

Distributor Buku VENTILATOR By KRISNA SUNDANA

SIAP PENGIRIMAN SELURUH INDONESIA

Senin, 03 Juni 2013

Pemeriksaan BGA



¨PENGERTIAN
  Pemeriksaan darah arteri untuk Penegakan diagnostik
¨TUJUAN
  Analisis gas darah arteri khususnya ketidakseimbangan asam-basa
¨INDIKASI
  Pemeriksaan ini dilakukan karena dicurigai adanya gangguan metabolik dan pernafasan 
¨KONTRA INDIKASI
  ¨Hampir tidak ada Kontraindikasi
  ¨Pasien yang dalam kondisi ND.
¨PERSIAPAN
  ¨Inform consent.
  ¨Spuit 3 cc dan jarum no 23.
  ¨Heparin 1000 unit/ml
  ¨Karet penutup
  ¨Sarung tangan
  ¨Kapas alkohol.
¨PROSEDUR
  ¨Ambil heparin kurang lebih 1 ml, kemudian kembalikan lagi kurang lebih 0,8 ml.
  ¨Ganti jarum dengan no 23.
  ¨Keluarkan haparin sehinga memenuh jarum.
  ¨Bawa ke pasien dan ambil darah arteri pasien dengan sudut 90 derajat.
  ¨Pastikan tidak ada gelembung udara dalam spuit, kemudian tutup ujung jarum dengan karet.
  ¨Beri identitas dan bawa ke laboratorium.

¨PENGKAJIAN KEP.
  ¨Pengetahuan pasien.
  ¨Keluhan dan TTV selama tindakan.

¨DIAGNOSA KEP.
 1.Ansietas b/d prosedur tindakan, hasil
 2.Asidosis Respiratorik.
 3.Asidosis Metabolik.
 4.Alkalosis Respiratorik
 5.Alkalosis Metabolik.

¨Rujukan Normal Hasil pemeriksaan
  ¨pH  7,35 – 7,45
  ¨pO80 – 100 mmHg
  ¨pCO35 – 45 mmHg
  ¨HCO3־  22 – 26 mEg/L
  ¨BE  -2  - +2
  ¨Saturasi  ≥ 95%
¨PEMBACAAN
¨INTEPRETASI HASIL GDA
¨Intervensi Asidosis Respiratorik
   ¨Anjurkan klien untuk latihan nafas (hiper).
   ¨Berikan fisioterapi nafas bila ada bersihan jalan nafas tidak efektik.
   ¨Berikan tidal volume maksimal.
   ¨Kolaborasi pemberian Sodium Bikarbonat.
¨Intervensi Alkalosis Respiratorik
   ¨Simptomatis.
   ¨Anjurkan klien untuk latihan nafas (hipo).
   ¨Berikan O2 masker sederhana.
¨Intervensi Asidosis Metabolik
   ¨Simptomatis.
   ¨Berikan cairan & elektrolit sesuai indikasi intra vena sesuai kebutuhan.
   ¨Sodium bikarbonat.
   ¨Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
¨Intervensi Alkalosis Metabolik
   ¨Simptomatis.
   ¨Berikan cairan & elektrolit sesuai indikasi intra vena sesuai kebutuhan.
   ¨Sodium clorida.
   ¨Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
   ¨Pemberian diuretik.

Rabu, 15 Mei 2013

Infeksi Nosokomial




Infeksi Nosokomial - Infeksi Nosokomial Bagi yang terjun dalam dunia medis serta juga keperawatan tentunya tidak akan asing dengan apa yang dimaksud dengan infeksi nosokomial. Apalagi berhubungan erat dengan Rumah Sakit nosokomial ini. Nah kali kali ini Blog Keperawatan akan mencoba share sedikit mengenaiinfeksi nosokomial rumah sakit.

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang belum ada ketika pasien masuk rumah sakit dan kemudian muncul ketika dalam masa perawatan inap di rumah sakit(umumnya 3x24 jam). Demikian kurang lebih pengertian infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial telah menyebar secara luas. Mereka juga merupakan kontributor untuk meningkatnya morbiditas dan kematian. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini.


Penyebaran utama penyebaran Infeksi nosokomial adalah : 
  1. Endogenous, self-infection atau auto-infection. Agen penyebab terjadinya infeksi nosokomial berasal dari pasien itu sendiri dan muncul ketika sedang rawat inap di rumah sakit sebagai akibat dari menurunnya daya imunitas tubuh pasien. (contohnya luka operasi yang belum sembuh dipegang dengan tangan pasien yang tidak bersih)
  2. Cross contamination diikuti dengan cross infection. Penyebaran infeksi nosokomial melalui kontak dengan agen kausatif baru yang kemudian terjadi infeksi baru. Kontak ini bisa berasal dari petugas paramedis, pasien lain, dan lingkungan seperti air, udara, makanan, serta prosedur dan alat medik (ventilator, iv line, catheter)
Pengetahuan mengenai hal pencegahan infeksi nosokomial ini sangat penting bagi seluruh petugas kesehatan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya yang hal tersebut merupakan sarana umum yang sangat berbahaya, dalam artian rawan, untuk terjadi infeksi. Kemampuan dalam hal mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit, dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan kesehatan dan juga pelayanan keperawatan yang bermutu.

Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah dengan cara meningkatkan kemampuan setiap petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions atau dalam bahasa kita adalah Kewaspadaan Universal ( KU ) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi. 

Cara Pengendalian Pencegahan infeksi nosokomial pada strategi Universal Precautions adalah meliputi beberapa hal di bawah ini :
  1. Personal hygiene
  2. Cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan dan air mengalir
  3. Penggunaan baju pelindung, masker, sarung tangan, dan penutup kepala
  4. Sterilisasi, desinfeksi, antiseptik dan dekontaminasi
  5. Kewaspadaan Universal pada pengelolaan dan penggunaan alat tajam(injeksi, iv line)
  6. Pengelolaan limbah dan lingkungan
  7. Surveilance
  8. Penetapan standar dan prosedur kerja
Tindakan surveilance yang tersebut di atas yang masuk dalam hal pengendalian infeksi Nosokomial (INOS) mengambil peran sangat penting dalam strategi pencegahan infeksi nosokomial. Dengan pemantauan terus menerus oleh tim yang telah dibentuk oleh rumah sakit untuk menemukan kasus infeksi nosokomial. Hal ini dilakukan untuk menjaga standar kualitas rumah sakit dan memantau prilaku para pekerja medis di rumah sakit.
Surveilance ini dilakukan dengan harapan dan juga tujuan :
  1. Menurunnya angka infeksi nosokomial di rumah sakit
  2. Menurukan angka morbiditas dan mortalitas pasien
  3. Mengubah prilaku tenaga kesehatan
  4. Melindungi tenaga kesehatan agar lebih waspada terhadap sumber infeksi di rumah sakit
Ada beberapa jenis infeksi Nosokomial (INOS). Berikut adalah jenis macam infeksi nosokomial yang sering ditemukan di Rumah Sakit : 
  1. Infeksi saluran kemih (paling sering). Infeksi ini paling sering disebabkan oleh pemasangan catheter. Biasanya terjadi apabila pemasangan yang tidak steril, fikasi yang kurang kuat, pemasangan melewati batas pengunggunaan( sebaiknya diganti 5-7 hari).
  2. Infeksi vaskuler. Paling banyak disebabkan oleh pemasangan infus. Sumber infeksi bisa berasal dari waktu dan cara pemasangan infus, jarum dan infus set, serta botol infus itu sendiri.
  3. Infeksi luka operasi. Resiko terjadinya infeksi luka operasi tergantung kepada jenis, macam operasi, keadaan umum penderita, ketrampilan dokter bedah, dan proses perawatan luka.
  4. Infeksi luka non operasi. Contohnya pada penanganan luka bakar dan dekubitus.
  5. Infeksi saluran pernapasan. Predisposisi terjadinya infeksi ini yaitu derajat keparahan penyakit pasien, rawat inap yang terlalu lama, usia rentan (terlalu muda atau tua) dan penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator).
Bagi kita tenaga kesehatan baik itu tenaga medis atau pun tenaga paramedis (perawat) infeksi nosokomial ini adalah musuh yang harus senantiasa di lawan dan jangan diberikan kesempatan untuk terjadi pada pasien-pasien yang tentunya mengharapkan kesembuhan bukan malahan "tambahan infeksi" selama masa pengobatan dan perawatan. Dan tentunya tiap Rumah sakit mempunyai protap tersendiri dalam hal menimalisasi terjadinya infeksi nosokomial ini. Dan semoga dalam memberikan pelayanan kesehatan angka kejadian infeksi nosokomial ini bisa ditekan serendah mungkin.

Sabtu, 11 Mei 2013

MANAGEMEN KEPERAWATAN PADA BAYI YANG MENGGUNAKAN VENTILATOR

MANAGEMEN KEPERAWATAN PADA BAYI YANG MENGGUNAKAN VENTILATOR 
by
Bambang Priyono


ABSTRAK.
Kalau ditinjau dari dependensinya maka pasien di ruang intensif  tergolong high dependent yang sangat bergantung pada penanganan perawat dan tim intensive care lainnya.  Perawat harus memantau secara terus menerus 24 jam (secara bergiliran). Bila terjadi kondisi kritis maka perawat akan mengambil langkah awal sesuai prosedur serta segera melaporkan pada dokter intensivist yang bertugas untuk mengembalikan stabilitas kondisi pasien agar terjamin kesembuhannya.

Salah satu permasalahan pada pasien di intensif care adalah pasien yang menggunakan alat bantu nafas mekanik. Pasien bayi yang mengunakan alat bantu nafas memiliki kekhususan tersendiri baik karena perbedaan anatomi, fisiologi, maupun dalam cara pendekatan psikologi.  Secara umum yang perlu diperhatikan dapat dikelompokkan menjadi 3 hal yakni;  Kondisi fisiologi pasien, interaksi pasien dengan ventilator dan kondisi ventilatornya sendiri. Kalau, pasien bayi dengan ventilator yang semula saturasi perifernya baik, secara tiba tiba saturasi perifernya menurun dan nafasnya menjadi makin sesak, seringkali membuat kita panik dan bingung harus berbuat apa.

         
PENDAHULUAN.
Salah satu ciri khas pasien yang dirawat di ruang  intensif adalah kondisinya yang tidak stabil terutama dari segi jalan nafas, pernafasan dan hemodinamika maupun mikrosirkulasinya.  Di samping itu, unit pelayanan ICU mempunyai ciri biaya tinggi, teknologi tinggi, multi disiplin dan multiprofesi berdasarkan azas efektivitas, keselamatan dan ekonomis. (1)  Evolusi ICU yang berawal tahun 1950-an  saat terjadi wabah Poliomyelitis di Scandinavia di mana terjadi banyak kematian karena kelumpuhan otot otot pernafasan. Dokter dokter anestesia pada waktu itu melakukan intubasi dan memberikan bantuan nafas sebagaimana dilakukan selama anestesi.  Pada perkembangannya ; ……..Saat ini pelayanan ICU tidak terbatas hanya pada pasien pasca bedah tetapi meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari satu disfungsi/ gagal organ. Kelompok pasien ini dapat berasal dari unit gawat darurat, kamar operasi, ruang perawatan, ataupun kiriman rumah sakit lain. ( Iqbal Mustafa, Pengantar. Standar Pelayanan ICU. DitJen YanMed DepKes RI 2003)
Perawat adalah bagian tak terpisahkan dalam penanganan pasien di rumah sakit. Terlebih lagi dalam menangani pasien di ICU.  Kemampuan seorang perawat untuk merawat pasien dengan ventilator di ICU menjadi penting untuk mendukung kerjasama Tim di ICU.  Pada pasien bayi yang nafasnya ditopang dengan ventilator perlu mendapat perawatan yang seksama. Pasien bayi yang mengunakan alat bantu nafas memiliki kekhususan tersendiri baik karena perbedaan anatomi, fisiologi, maupun dalam cara pendekatan psikologi. Pemantauan bukan hanya pada ventilatornya saja, namun keseluruhan dari pasien.  Secara umum yang perlu diperhatikan dapat dikelompokkan menjadi 3 hal yakni;  Kondisi pasien, interaksi pasien dengan ventilator dan kondisi ventilatornya sendiri.

KONDISI PASIEN
Memperhatikan apakah jalan nafas (dalam hal ini endotrakheal tube/ETT) masih pada posisinya merupakan urutan nomer satu dalam  merawat pasien. Terjadinya “one lung ventilation” karena endotrakheal tube yang terlalu “dalam” senantiasa dimonitor. Panjang endotrakheal  pada bayi dengan ventilator diberi tanda secara seksama mengingat trakheanya yang realtif pendek sehingga peluang dislokasi menjadi besar.   Tabel 1: Perkiraan panjang ETT .(2)
AGE
Approximation Distance of Insertion (cm)
even with Alveolar Ridge
Preterm< 1 kg
6
Preterm< 2 kg
7 – 9
Term Newborn
10
1 year
11
2 years
12
6 years
15
10 years
17
Di samping masalah dislokasi, peluang terjadinya sumbatan ETT baik karena terlipat atau tersumbat sputum atau benda lain di dalamnya. Suctioning dilakukan manakala ada sekret/ dahak yang menghambat jalan nafas. Menjaga kebersihan mulut (oral hygiene) tetap dilakukan dengan tetap menjaga posisi ETT.
Tabel 2 : Pemilihan ukuran kateter suction.(3)
ETT (ID)
Suction Cath (Fr)
2.5
5 , 6
3
5 , 6 – 8
3.5
8 – 10
4
8 - 10

Melakukan suctioning harus secara lembut namun cepat ( 5 detik). Beberapa bahaya dapat menyertai prosedur suctioning.
Tabel 3 : Bahaya bahaya suctioning. (3)
Bahaya bahaya suctioning
1. Bradycardia
      a. vagal response
      b. hypoxemia-induced
2. Hypoxemia
3. Mucosal damage
4. Atelectasis
5. Airway Contamination
6. Accidental extubation

Memasang saturasi perifer diatur sedemikian rupa sehingga light source melewati arterial dan berhadapan dengan photodetector. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi ketepatan pengukuran saturasi perifer antara lain ; kadar hemoglobin, aliran darah arterial pada pembuluh darah, suhu di mana sensor diletakkan, oksigenasi dari pasien, persentase gas yang diinspirasi, cahaya sekitar sensor, serta venous return disekitar probe.(4) Hendaknya pemantauan atas pernafasan bukan hanya pemantauan atas saturasi perifer saja. Memperhatikan pola pernafasan pasien dapat di mulai dengan menghitung frekuensi nafas bukan dari monitor namun dari gerakan dada bayi. Simetrisitas gerakan dada bayi dapat dipantau dengan melihat, mengetuk ngetuk (perkusi) ataupun dengan auskultasi pakai stateskop.  Adanya ronkhi, wheezing atau suara nafas tambahan lainnya jangan  terlewatkan dari pemantauan. Boleh jadi dari laporan perawat maka dokter menindaklanjuti dengan pemeriksaan rontgen.
Secara klinis pemeriksaan hemodinamika dengan memperhatikan Perfusi, pengisian kapiler, nadi dan tekanan darah jangan ditinggalkan. Pada anak anak, penilaian perfusi, pengisian kapiler dan nadi merupakan indikator yang lebih “reliable” pada kondisi hipovolemik dibanding pengukuran tekanan darah.  Hal tersebut karena perubahannya lebih dini pada anak yang mengalami shock, sedangkan penurunan tekanan darahnya akan menurun belakangan.
Produksi urine menjadi fokus perhatian sebagai bagian dalam perhitungan keseimbangan cairan.  Jumlah cairan keluar dalam bentuk urine cairan lambung ataupun drain dan lain lain dicatat dari waktu ke waktu. Periode waktu ini bergantung pada kondisi pasien. Boleh jadi tiap jam harus diukur karena produksi urine yang cenderung kurang jumlahnya. Secara umum bayi dengan ventilator diatur cairannya agar tidak kelebihan, kecuali pada kasus tertentu yang sedang direhidrasi.
Pipa lambung rutin dipasang pada bayi dengan bantuan nafas ventilator. Pipa lambung ini memberikan kemamnfaatan untuk dekompresi lambung agar lambung tidak kembung.  Lambung yang kembung dapat mengganggu pergerakan diafragma yang pada gilirannya akan mengganggu pernafasan bayi. Pada penanganan jangka selanjutnya di mana peristaltik dalam batas normal maka pemberian feeding dapat melalui pipa lambung ini. Dalam memberikan Feeding melalui pipa lambung ini dipantau secara seksama kemampuan serap dari lambung dan saluran cerna agar tidak berisiko aspirasi.
Memantau temperatur bayi dengan bantuan nafas ventilator bukanlah sekadar rutin. Peningkatan suhu tubuh akan mengubah pola nafas. Pengamatan lebih jauh tentu harus dilakukan atas peningkatan suhu tersebut, boleh jadi karena cairan yang kurang, infus atau IV line sudah mulai phlebitis karena waktunya untuk diganti baru atau mungkin memang ada infeksi baru.
Pada posisi tidur terlentang diupayakan anti-trendelenberg 20 – 30 derajat, kepala lebih tinggi. Hal tersebut menghindarkan risiko regurgitasi aspirasi. Memiringkan ke kanan dan ke kiri paling tidak tiap 2 jam untuk mengurangi risiko decubitus

INTERAKSI PASIEN DENGAN VENTILATOR
Ada 4 konsep ventilasi yang mengemuka yang diyakini secara bermakna mempengaruhi angka kematian,  kesakitan dan “kenyamanan” pasien. (5). Yang pertama Aliran udara inspirasi (The Inspiratory gas flow). Kedua optimalisasi interaksi pasien-ventilator yang merupakan hal esential untuk kenyamanan pasien dan untuk mengurangi lamanya ventilasi. Ketiga, data yang menunjukan bahwa Ventilasi dengan Volume Tidal rendah memperbaiki angka kematian pada pasien dewasa dapat juga diterapkan pada pasien anak. Keempat, jika ventilasi Vt rendah diterapkan secara akurat pada bayi dan anak kecil maka pengukuran Vt secara akurat harus didapatkan.
Perawat dengan keberadaannya selama 24 jam di samping pasien menjadikannya tahu perkembangan Interaksi pasien – ventilator dari waktu ke waktu. Di panel monitor ventilator akan tampak berbagai data keluaran dari pengaturan ventilator. Di antaranya menyangkut  
         Airway / circuit / tracheal pressures
         Circuit gas flow
         Delivered Volume
         Circuit gas concentration
          In summary, it is important to optimize the patientventilator
          interaction by optimizing the ventilator settings
          before resorting to sedation. Sedative use in the first 24
          hours of weaning from mechanical ventilation influences
          the duration of mechanical ventilation and extubation failure
           in infants and children.

KONDISI VENTILATOR
Dengan memeriksa tekanan dimaksudkan memeriksa Sumber oksigen dan compress air  apakah telah telah tersambung baik Melakukan test kebocoran dan fungsi dilakukan  sebelum ventilator dihubungkan dengan pasien. Lung Test ada baiknya dipakai untuk mengkonfirmasi setting ventilator.  Humidifier dipastikan berfungsi baik dengan merasakan suhu yang terjadi, atau mungkin menggunakan Filter HME (heat mouisturing exchanger) . Batas batas alarm dipastikan pada batas yang tepat.  


Alat alat kelengkapan suction perlu dicek apakah telah disediakan dan berfungsi baik bila sewaktu waktu diperlukan. Bukan saja mesin suction atau outlet tekanan negatifnya, namun berapa tekanan yang bisa dihasilkan dan ukuran kateter yang dibutuhkan juga telah dalam jangkauan.
Yang tidak boleh terlewatkan keberadaannya adalah Jackson rees beserta face mask yang pada kondisi emergensi amat dibutuhkan.


DOPES.
Suatu kala, pasien bayi dengan ventilator yang semula saturasi perifernya baik, secara tiba tiba saturasi perifernya menurun dan nafasnya menjadi makin sesak.  Menduga bahwa hal itu dikarenakan probe saturasinya terlepas hendaknya dilakukan belakangan. Yang perlu dipikirkan kemungkinan telah terjadi DOPES.  Dalam hal ini pikirkan kemungkinan terjadi Dislokasi ETT, atau Obstruksi ETT, atau terjadi Pneumothorax tension atau Equipment (ventilator) Problem atau juga karena Stomach distented. Maka ventilasi bayi ambil alih dengan menggunakan jackson rees sambil mengevaluasi ETT dan ventilasi. Bila semua dalam batas baik boleh jadi karena hemodinamika dan mikrosirkulasi yang menurun.


Kepustakaan.
1. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI : Standar Pelayanan ICU. 2003. Hal 5.
2. Melissa Wheeler et al ; Pediatric Airway in Cote Todres Goudsouzian Ryan, A Practice of Anaesthesia for infants and Children. WB Saunders, Philadelphia, 2001 p.93.
3. Kent Whitaker, Comprehensive Perinatal & Pediatric Respiratory Care 3rd Ed.Delmar thomson learning, United States 2001. P 165.
4. Debra J.Lynn-McHale et al ; AACN Procedure Manual for Critical Care 4th ED. WB Saunders.  Philadelphia, 2001. P. 77.
5.  Ira M Cheifitz ; Invasive and non invasive Pediatric Mechanical Ventilation. Respiratory Care , april 2003.




Selasa, 07 Mei 2013

Mode Ventilator Raphael Silver

 
Gambar diatas merupakan Mode mode pada Ventilator Raphael Silveer :
dari gambar diatas bisa dilihat berbagai macam mode yang dimiliki.
1. (S) CMV+ ( Controlled Mechanical Ventilation )
2. SIMV+ ( Synchronized Intermittent Mandatory Ventilation )
3. SPONTAN
4. NIV ( Non Invassive Ventilation )
5. ASV ( Adaptive Support Ventilation )
6. PCV+ ( Pressure Controlled Ventilation )
7. PSIMV+ ( Pressure Synchronized Intermittent Mandatory Ventilation )
8. DuoPAP
9. APRV ( Airways Pressure Released Ventilation )
dan juga terdapat menu tambahan Sigh ( Nafas Dalam/Nafas Panjang ) dan Apneu Backup Jika Px ode Berhenti bernafas pada Mode Tertentu

Kandungan ENTERAL FEEDING atau Sonde

Kandungan Zat Gizi Enteral Feeding

SOLUSI BBM HEMAT DAN RAMAH LINGKUNGAN - KLIK GAMBAR UNTUK PEMBELIAN

Follow by Email